Showing posts with label homeschooling activities. Show all posts
Showing posts with label homeschooling activities. Show all posts

Wednesday, November 23, 2011

Poetry Appreciation

by Eugene Field (1850-1895)

Wynken, Blynken, and Nod one night

   Sailed off in a wooden shoe---
Sailed on a river of crystal light,  
Into a sea of dew.
"Where are you going, and what do you wish?"  
 The old moon asked the three."
We have come to fish for the herring fish   
That live in this beautiful sea;   
Nets of silver and gold have we!"                    
 Said Wynken, 
Blynken, 
And Nod.


The old moon laughed and sang a song,

   As they rocked in the wooden shoe,
And the wind that sped them all night long   
Ruffled the waves of dew.
The little stars were the herring fish   
That lived in that beautiful sea---
"Now cast your nets wherever you wish---   
Never afeard are we";   
So cried the stars to the fishermen three:                     
Wynken, 
Blynken, 
And Nod.


All night long their nets they threw

   To the stars in the twinkling foam---
Then down from the skies came the wooden shoe,   
Bringing the fishermen home;
'T was all so pretty a sail it seemed   
As if it could not be,
And some folks thought 't was a dream they 'd dreamed   
Of sailing that beautiful sea---   
But I shall name you the fishermen three:
Wynken,
Blynken,
And Nod.

Wynken and Blynken are two little eyes,
   And Nod is a little head,
And the wooden shoe that sailed the skies   
Is a wee one's trundle-bed.
So shut your eyes while mother sings   
Of wonderful sights that be,
And you shall see the beautiful things   
As you rock in the misty sea, 
Where the old shoe rocked the fishermen three:
Wynken,
Blynken,
And Nod.

Made into a movie by Walt Disney, based on the above poem.
The song was narrated and sang in Spanish.

Source of  lesson:Primary Language Lessons: Homeschool Edition by Michelle Morrow

What we did:
- Reading the poem
- Listening to native speaker
-Watching video
- Enjoying the intepretation how a poem can turned into a movie and a book
- Realizing the power of imagination
- Discussing how a Dutch Lullaby can inspire many artists to do different things
- Enjoying the beautiful art pictures and song
- Appreciating the poet, artist and the movie maker by put the original links/sites

Tuesday, November 8, 2011

Homemade Chicken Nugget

Salah satu tempat belajar favorit kami di rumah adalah DAPUR!
Kami praktek tentang pengetahuan gizi di dapur. 
Dapur adalah salah satu sarana kami untuk hidup sehat!

Chicken nugget merupakan makanan kesukaan anak-anak. Tetapi setelah kami belajar membaca komposisi makakanan, kami makin menyadari banyaknya zat aditif yang tidak diperlukan tubuh, tapi diperlukan untuk mengawetkan makanan.

Kesimpulan kami belajar tentang makanan buatan pabrik:
-butuh waktu awet yg lebih lama untuk sampai ke tangan konsumen
-butuh BTM (bahan tambahan makanan) berupa pengawet, perasa, pewarna supaya tampilan makin cantik
-butuh packaging yang akan menambah makin banyaknya sampah
-kita tidak tahu pasti, apakah label komposisi benar-benar sesuai dengan isi produknya

Oleh karena itu, kami suka mencoba ini dan itu dan membuat segala macam dg embel-embel "homemade", buatan rumah, dengan bahan-bahan yang segar dari pasar.


Berikut bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Homemade Chicken Nugget:
- 0.5 kg ayam kampung giling
- 7 siung bawang merah
- 7 siung bawang putih
- merica secukupnya
-garam secukupnya (kami mengurangi garam, jd kami hanya menebarkan sedikit saja)
- 1 butir telur ayam kampung
- 1/4 gelas air
- sedikit mentega untuk menggoreng (bisa diganti dg minyak zaitun)
Cara membuat:
-campur air, bawang merah, bawang putih, merica, garam, telur dan air.
Blender sampai semuanya tercampur dengan baik.
- campurkan bumbu dengan ayam giling. aduk rata.
-siapkan kukusan dan loyang yang sudah dikuas dengan minyak (supaya mudah mengeluarkan nugget yang sudah dikukus nantinya)
Kukus kurang lebih 30 menit dengan api besar.
Keluarkan dari kukusan, lalu potong-potong sesuai selera.
Siapkan wajan anti lengket yang telah dioles mentega. 
Goreng dengan api kecil, mentega mudah sekali gosong.*
Bolak balik hingga berwarna kecoklatan. 
*Untuk keterangan lebih jauh tentang mentega bisa dibaca di sini dan sini
Selamat menikmati!

Friday, November 4, 2011

Ikutan Kontes Animasi Unilever di eYeka

Berawal dari beberapa bulan lalu seorang saudara meminta tolong untuk voting di eYeka, saya otomatis harus sign up di sana. Setelah melihat banyak ada peluang untuk menambah wawasan, teman dan networking, saya mendaftar untuk mendapatkan newsletter di email saya.

Berbulan-bulan berlalu dan tidak ada yang menarik saya untuk ikut salah satupun dari kontes yang ada. Lalu, beberapa hari lalu, saya menerima newsletter tentang beberapa kontes yang hampir kadaluwarsa. Wah, ternyata, ada satu topik tentang merawat dan memelihara bumi di eYeka Unilever Contest. Formatnya bisa menggunakan animasi. Kebetulan, Evan sedang semangat-semangatnya membuat animasi dengan Go Animate!

Evan membuat animasi dengan judul "Small Things can make a Big Difference" untuk kontes tersebut.
Ide cerita diambil dari kegiatan sehari-hari yang bisa dilakukan untuk merawat bumi dengan menghemat energi.
Brian, selalu mematikan lampu saat tidak memerlukannya. Dia memilih olah raga jogging dan berjalan ke taman daripada naik kendaraan. Candace, menggunakan pakaiannya beberapa kali sebelum mencucinya untuk menghemat air dan listrik. Jika setiap kita melakukan hal-hal kecil, maka akan ada perubahan besar yang terjadi, kan? :) Let's love our earth! 
Format yang diminta adalah animasi dengan durasi maksimum 45 detik. Kami bekerja keras untuk animasi ini. Mencari ide, menuangkan ide, membuat kalimat yang mewakili pemikiran kami, memberikan background, pemilihan tokoh, editing,  dll. Clay juga memberikan banyak inputan dari segi artistik. Kami bekerja sama sebagai satu tim.

Ternyata, untuk membuat animasi selama 45 detik, kami menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Bagaimana dengan Steven Spielberg yang membuat film Jurassic Park?
Pertikaian, nada suara tinggi, kelelahan dan deadline yang sangat pendek membuat suasana kurang nyaman saat proses pembuatan animasi berlangsung. Tapi kami tidak mau menyerah. Kami beristirahat, dan melanjutkan kembali. Proses perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan buat seorang anak berusia 7 tahun.

Akhirnya, setelah perjuangan kami selesai, Evan sudah ceria kembali. Dia sempat mengomel dengan banyaknya "tuntutan" yang dia harus penuhi selama proses pembuatan. Saat itu juga kami langsung upload di folder yang sudah ditentukan. Sesaat kemudian, saya menerima email, bahwa akan ada konfirmasi lagi apakah animasi kami memperoleh approval dari panitia untuk diikutsertakan di kontes Unilever.

Tunggu punya tunggu, lewat tengah malam, ada email yang saya terima dan langsung saya buka. Isinya demikian:
"Hai Ekawati ! 
Media anda Small Things can make a Big Difference! ditolak dari grup Tunjukkan bagaimana perubahan-perubahan kecil dapat membuat perubahan besar untuk dunia. 
Thanks for your participation but I'm afraid you can not use this animation website according to our contest rules." 

Gubrak! Ditolak karena kami memakai website Go Animate! rupanya. Hiks. Sedih juga. Kami sudah kerja keras, tapi tidak bisa ikut serta. Bagaimana reaksi Evan besok pagi ya? Dia sudah berangan-angan, jika menang, dia akan memakai uangnya untuk ini dan itu. Hehehe. Apa boleh buat. Ini salah satu pembelajaran di dunia yang sesungguhnya. DUNIA adalah RUANG KELAS KAMI. 

Pagi ini, saya memberitahukan isi email itu kepada Clay dan Evan. Yang saya takjub, Evan kecewa, tapi tidak marah sama sekali. Dia hanya bilang, "Yaaaah..." Lalu kami membuka semua video (atau animasi) para kontestan lain dari berbagai belahan dunia. Kami belajar banyak dari situ. Beberapa kontestan mencantumkan logo Unilever di akhir video mereka. Ini membuat kami sadar, kami masih banyak yang kami harus pelajari sebelum bisa memenangkan sesuatu. Ini baru awal. Ini suatu proses belajar. 

Kami tidak rugi karena ditolak. Kami sudah belajar banyak.  

I love working with you, Boys!

Thursday, October 20, 2011

Cemburu yang Positif


Beberapa waktu lalu, saya menuliskan status di FB tentang lebih pentingnya menumbuhkan karakter positif dalam diri anak daripada hal-hal yang bisa muncul secara alami. Apalagi yang negatif. Sedapat mungkin dihambat pertumbuhannya, supaya tidak menjadi kebiasaan dan menjadi bagian dari hidup si anak.
Apa yang saya perkirakan sudah ada dalam diri seorang anak adalah kompetisi yang alami.

Kompetisi ada sejak seorang anak mendapat seorang adik. Dia akan merasa mendapatkan saingan yang mencuri perhatian kedua orang tuanya, yang tadinya tercurah penuh buat dia.
Kompetisi ada saat suami tidak mendapat perhatian cukup setelah sang istri sibuk mengurus bayi mereka. Bahkan dalam beberapa keluarga, ini bisa jadi akar masalah yang menahun.
Kompetisi ada saat anak-anak berebut pizza di meja makan dan menginginkan potongan terbesaaarrr. Pernah mengalaminya? Saya pernah. Dulu.

Nah, yang menggelitik buat saya, beberapa teman bertanya, kalo homeschool, bagaimana menumbuhkan kompetisi? Enggak salah apa ya? Hehe.. Buat kami, kecemburuan, adalah suatu karakter yang negatif, kecuali ada di tempat yang tepat. Cemburu buta apalagi. Beberapa kasus pembunuhan terjadi karena pelaku cemburu. Ih, serem ah.

Nah, pagi ini, saat membaca Koran Anak Berani, Evan kena "panic attack". Beritanya bisa dibaca di sini.
 Salah satu mimpi Evan adalah menciptakan game untuk dijual ke Apple setelah dia besar. Lhah, ini kok sudah ada anak umur 7 tahun. Sepantaran dia??? Dia langsung "panas" dan penasaran, bagaimana bisa anak seusia dia menciptakan game. Bukan memainkan lhooo.. 
Menyikapi kepanikan Evan, saya browse beberapa website tutorial yang mudah untuk membuat game. Dan dengan inputan Devi Sutarsi, Evan mencoba untuk membuat game pertamanya seorang diri dengan software yang didownload di sini. Saya hanya berada di ruang yang sama, dan membiarkan Evan trial-and-error sendiri. Mau membantupun tiada daya, liat tampilan screennya aja sudah pusing saya. Hihihi.. 

Apakah cemburu yang positif baik? Pada skala tertentu, jika itu menghasilkan sesuatu yang baik, saya akan membiarkannya. 
Selama itu mendukung proses anak untuk menggali potensi terdalam mereka, saya akan mencari fasilitas yg sesuai dg kantong kami.

Tugas kami sebagai orang tua adalah membimbing dan belajar bersama mereka. Bukanlah tugas yang sulit, karena tidak semua materi yg mereka sedang pelajari, kami harus tahu. 
Tapi justru ini kesempatan untuk KAMI TERUS BELAJAR. 
Learning never ends.




Wednesday, October 5, 2011

HOUSE RULES - PERATURAN di RUMAH

HOUSE RULES
author unknown
If you drop it - pick it up;
If you sleep on it - make it up;
If you wear it - hang it up;
If you spill it - wipe it up;
If you turn it on - turn it off;
If you open it - close it;
If it rings -  answer it;
It if howls - feed it;
If it cries - love it.

Sama seperti jalan raya akan kacau balau tanpa peraturan, rumah yang nyaman juga membutuhkannya.
"Peraturan di Rumah", kami tempel di salah satu pintu kamar kami.
Tujuannya untuk mengingatkan, bahwa kami butuh KERJASAMA
 Tiap kami adalah PENTING.
Tiap kami mempunyai HAK untuk bersantai dan bermain.
Tiap kami punya KEWAJIBAN untuk menjaga rumah tetap RAPI dan NYAMAN.
Kami punya TANGGUNG JAWAB untuk menjaga BUMI tetap HIJAU.
Kami butuh SALING mendukung dan membantu.
Kami adalah satu TIM.
Kami UNIK.
Kami diciptakan untuk berbuat baik. 
Dimulai dari hal-hal kecil.
Dimulai dari rumah kami.


Friday, May 6, 2011

Jakarta Green Monster

Booth Pepsodent, Evan geli melihat ada gigi yang besaaar.. dan sikat giginya juga besoarr!

Jakarta Green Monster Booth mengajarkan anak-anak bagaimana membuat kertas daur ulang dari kertas koran.
http://rujak.org/jakarta-green-monster/

LUMINTU

 Lumayan itung-itung nunggu tutup usia“. Nama dan singkatan yang unik dan menarik. Dalam hati saya tersenyum.  Lantas, apakah Lumintu itu?
http://green.kompasiana.com/limbah/2010/11/14/lumintu-apaan-sih-tu/

Clay, Evan, Joel dan Chloe mendapat kesempatan berkunjung ke booth LUMINTU. Menarik sekali. Berbagai barang bekas bisa "disulap" menjadi berbagai mainan yang keren. Bahkan ada yang menjadi tas, map dan ransel.

Clay dan Evan berfoto bersama kakak yang mengajari mereka membuat robot dan pesawat dari barang bekas. Seorang kameraman mendatangi Evan dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada Evan. :) Ditayangkan di stasiun TV apa, Van? Hehehe.

Super, Maaannn!

Green Festival 2010 membeberkan banyak fakta tentang polusi dan beberapa tips untuk menguranginya. Salah satunya adalah dengan naik angkuatan umum daripada kendaraan pribadi. Selain menghemat ongkos, jejak karbon yang dihasilkan juga akan berkurang.

Kalau bepergian dengan jarak dekat, sebisa mungkin, berjalan kaki atau naik sepeda. Selain bebas polusi, itu akan menyehatkan badan kita. Tubuh kita sehat, kuat dan supeeer, Maaaannn! :p

Komitmen Menanam Pohon

Clay dan Evan memperoleh bibit pohon untuk dibawa pulang ke rumah dan ditanam di pekarangan rumah. Pohon membutuhkan wajktu untuk tumbuh dan memiliki banyak daun. Daun berfungsi untuk menyerap karbondioksida (polusi udara, asap knalpot) dan menghasilkan oksigen di pagi hingga sore hari.

Hindari berdekatan dengan pohon yang lebat daunnya di waktu malam hari, karena pohon menghasilkan karbondioksida pada malam hari dan menyerap oksigen.

Ayo, menanam, supaya saat anak-anak kita besar, bumi masih hijau dan terawat!

Mobil dari Barang Bekas

Bermain dengan barang bekas dan permainan sederhana di Green Festival 2010. Evan dan Joel bermain tumpuk kartu dan mobil-mobilan dari barang bekas bersama Chloe.

Roket Air

Thanks to Tante Devi yang membayar tiket main "Roket Air". Horeeee!! Kami basah kuyup sambil belajar fisika. Seruuuuu!!

SecondLife: 8 Planets and so on

Belajar bersama di SecondLife dengan Ms. Ines Ogura membuat anak-anak tertarik untuk mempelajari hal lain selain building membuat proyek 8 planet tata surya.

Evan menemukan "timbangan" planet di sini: 

Wah, saya sampai terpana melihatnya. Keren banget!
Belajar materi "berat" dengan cara menyenangkan? Anak kecil pun bisa!

The Anatomy Show


The Anatomy Show, atau di Singapore lebih dikenal dengan nama The Body Show, akan mulai menggelar pamerannya dari tanggal 16 Juli 2010 sampai dengan 3 Oktober 2010 di FX Mall, Jakarta, setelah sebelumnya sukses mengadakan pameran selama tiga bulan di Singapore sebagai persinggahan pertama dari rangkaian tournya di Asia.

Kami berkesempatan untuk berkunjung ke FX Plaza setelah mengikuti Green Festival di parkir Senayan.

Info selanjutnya bisa dibaca di: 

Kimi, the Little Baby Boy

Senangnya kalo ada temen yang maen ke rumah.. Apalagi seorang bayi kecil! Tante Devi, kapan maen ke sini  lagi?

Connetrix

Belajar bagi kami tidak bisa dilepaskan dari permainan. Clay mendapatkan hadiah ulang tahunnya dari Aimee, Josia dan adik-adiknya. Permainan ini mengasah keterampilan untuk berkreasi dan bersabar dan kreatif. Mereka bisa memainkan Connetrix berjam-jam dan menghasilkan berbagai macam bentuk. :)

Happy Building!

Birthday Cake for Papa

Kami memutuskan untuk membuat kue ulang tahun untuk Papa tahun lalu. Asik banget! Menurut kami, belajar di rumah, membuat kami sadar, kalau semua aktifitas yang kami lakukan adalah proses belajar.

Kami belajar:
- membaca resep
- menyiapkan peralatan yang dipakai
- bahwa semua butuh proses, tidak ada yang mudah
- memasak dengan cinta dan sukacita, memberikan kepuasan tersendiri
- berhemat dengan membuat cake sendiri daripada membeli
- untuk "menghasilkan" dan bukan "menghabiskan" -tidak konsumtif
- bekerja sama

Salah satu tempat favorit kami belajar adalah DAPUR!
Karena saat belajar di dapur, kami tidak hanya "mengenyangkan" pikiran kami dengan pengetahuan, tetapi juga perut kami. Yum!

Membuat Timbangan Sederhana

Salah satu hal yang sangat memuaskan hati saya adalah ketika melihat wajah anak-anak belajar di rumah. Tidak ada ketegangan, tidak ada paksaan, tidak ada omelan, semua berjalan dengan gembira. Kami memiliki komitmen untuk sebisa mungkin tidak membentak dan berteriak kecuali ada hal yang darurat, misal: kebakaran. Apakah berhasil? Sejauh ini belum. Tapi kami mau belajar untuk lebih baik setiap hari. :)

Percobaan ini diambil dari buku Math My Pals 3A. Evan menyiapkan semua peralatan yang diperlukan sendiri.  Clay dan saya memiliki tugas untuk dikerjakan masing-masing. Evan mengambil gantungan baju di tempat jemuran, membuka lemari scrapbook saya dan mencari tali, mengambil gelas bekas Aqua mini yang ditinggalkan Bobo (: nenek) sewaktu berkunjung ke rumah kami.

Saya membantunya untuk melubangi gelas dengan gunting, tapi selebihnya untuk membuat simpul dan lainnya, itu adalah tugas mandiri Evan. Giliran Clay dan saya yang menjadi penonton (: murid), dan Evan yang menjelaskan.

Mereka terbiasa belajar mandiri dan memberikan penjelasan, sedangkan tugas saya hanya ada di dekat mereka jika mereka membutuhkan pertolongan. Homeschooling itu asyik!

Simple Salad

Menurut beberapa buku yang kami baca, makan makanan mentah (dan bersih, tapi yaaa...), itu menyehatkan lho. Kandungan gizi dari sayur dan buah yang tidak mengalami proses pemanasan, pengasinan, pengawetan, pendinginan, dll. sangat maksimal diasup oleh tubuh.

Salah satu cara kami mengasup makanan mentah adalah dengan membuat salad yang mudah dan sehat.

Bahan-bahan yang dipakai:
wortel
kacang edamame
lettuce
gula batu cair
garam

Cara:
Semua bahan dicuci bersih dengan air mengalir (supaya pestisida dan telur insektisida terbuang)
Bilas dengan air minum
Tiriskan
Masukkan ke dalam mangkuk besar, tambahkan gula batu cair dan garam sesuai selera
Sajikan segera

Bahan-bahan di atas bisa divariasi sesuai selera. Kadang kami menambahkan jagung manis yang sudah direbus dan dipipil, brokoli yg dikukus sebentar, kembang kol kukus, kacang, biji bunga matahari.

Ada yg bertanya: "Kok bumbunya ga pake mayones?"

Kami memakai bumbu minimal krn ini bagian dari proses keluarga kami memperoleh kesehatan optimal. kami sedang belajar MEMANJAKAN ORGAN TUBUH LAIN, yang BUKAN LIDAH. Hehehe, demikian jawaban saya. Enak nomer sekian, yang penting sehat dulu. :p

Kunjungan ke Pabrik Sandal

Bersama teman-teman homeschoolers berkunjung ke pabrik sandal. Terima kasih untuk kemurahan hati Bapak dan Ibu pemilik pabrik yang mau menerima kunjungan kami.

Percobaan Sains Mandiri

Kami menerapkan prinsip: "Everybody is working in the house." di rumah kami.
Clay dan Evan sudah cukup besar untuk melakukan berbagai hal sendiri. Ada beberapa hal yang kami masih awasi, misalnya pemakaian benda tajam dan kompor.

Sering dalam buku-buku yang mereka pelajari, terdapat berbagai macam percobaan untuk membuktikan fakta sains.

Clay mempersiapkan semua peralatannya seorang diri, dan sampai pada waktu menyalakan kompor, baru saya "wajib hadir" di dapur. Selebihnya, dari mempersiapkan bahan, proses pengujian dan menjelaskan, saya dan Evan hanya menjadi penonton (murid -red.).