Dia tertarik
untuk belajar berbisnis dengan membuka toko sabun rumahan online.
Really? Wow.
For such a great idea from a 12-year-old, I think we all should support him full-heartedly.
He said, everyone takes a bath everyday.
Not to mention on hot days, which can lead to taking shower more than twice a day. *grin*
Soap, according to him is needed and used on daily basis, so people will keep buying, if he sells good products.
We searched and learn a lot from soap making communities, websites, youtube, reading soap making books and learn about the chemical reactions along the way.
Dengan
munculnya ide tersebut, kami semua memberi dukungan penuh.
Pemikirannya,
setiap orang harus mandi. Apalagi kalau cuaca panas, maka orang bisa mandi
lebih dari dua kali. Kecuali yg malas mandi. Hihihi..
Sabun adalah
kebutuhan yang selalu digunakan sehari-hari. Oleh karena itu, kalau dia bisa
menjual sabun berkualitas baik, maka kemungkinan besar bisnisnya akan
berjalan.
Kami belajar
dari berbagai sumber dari internet, forum pembuatan sabun, youtube, membaca
buku tentang pembuatan sabun dan mempelajari lebih dalam tentang berbagai
reaksi kimia.
Searching more about the making natural soap, limit our creation mostly using cooking ingredients, such as: palm oil, coconut oil, flaxseed oil, orange rind, lemon peel, carrot peel and such.
The colors we used in this Peacock Soap project only red and black.
Red derived from red food coloring and black from crushed activated carbon tablets.
We used the activated carbon to clean the skin from pollutants or other cosmetics which applied on skin.
Kami menggali lebih banyak informasi
tentang pembuatan sabun alami dan sangat membatasi penggunaan bahan kimia.
Bahan sabun rumahan kami sedapat mungkin adalah bahan yang terdapat di dapur
kami, atau bisa dimakan. Kami bereksperimen dg berbagai macam minyak seperti:
minyak sawit, minyak kelapa, minyak rami, kulit jeruk, kulit lemon dan juga
kulit wortel.
Bahan pewarna yang kami pakai dalam sabun
(motif) Merak ini hanya pewarna makanan merah dan NORIT (karbon aktif) yang
dihancurkan untuk warna hitam.
Kami memakai karbon aktif untuk membersihkan polutan dan bahan kosmetik.
Activated charcoal has often been used since ancient times to cure a variety of ailments including poisoning. Its healing effects have been well documented since as early as 1550 B.C. by the Egyptians. However, charcoal was almost forgotten until 15 years ago when it was rediscovered as a wonderful oral agent to treat most overdoses and toxins.
Here's the tutorial we learned from to make the soap.
Lots of valuable tutorial, tips and tricks can be found in Brambleberry.com
Berikut tutorial yang kami pakai sebagai
acuan untuk membuat pola merak.
Banyak tutorial dan berbagai tips dapat
diperoleh dariBrambleberry.com
So much fun in soap making process.
Dad (a.k.a Principal and Hubby), who is a business man and enterpreneur,
excitedly shared his knowledge about essential things we need to know in starting up our small business.
We learned new business word, like: SWOT - Strength, Weakness, Opportunities and Threats.
We learn to make business plan: analyzing target market, distribution, pricing strategy and promotions.
We are discussing name of the brands and having so much giggling time hearing those silly names mentioned.
Begitu banyak hal menarik sepanjang proses
pembuatan sabun.
Papa (alias Kepala Sekolah dan Sang
Suami), pelaku bisnis profesional, dg penuh semangat membuat seminar pendek
khusus untuk kami. *applause*
Seminar itu diadakan di rumah dengan papan
presentasi dan kami duduk manis sebagai peserta seminar.
Banyak istilah bisnis yang kami pelajari
dalam seminar mini tersebut, misalnya:SWOT
- Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunities (Kesempatan)danThreats (Ancaman).
Kami belajar membuat rencana bisnis:
analisa pasar, distribusi, strategi menetapkan harga dan promosi.
Dan yang paling seru saat kami berdiskusi
utk nama toko online.
Banyak usulan konyol dan lucu bermunculan dan
itu membuat kami cekikikan tiada henti. :)
As we learn together with our kids,
we get to know each other better and ready to help one another to dig up our own potential.
Saat kami
belajar bersama anak-anak,
kami mengenali mereka lebih dalam dan
belajar saling
menolong menggali potensi diri kami masing-masing.
Seringkali yang menjadi fokus belajar adalah HASIL AKHIR.
Padahal, setelah kami belajar di rumah selama 4 th terakhir, kami mendapati, salah satu pembelajaran paling efektif adalah dengan melakukan kesalahan.
Ini cerita tentang PROSES gagal sampai berhasil, yang dilakukan dengan keringetan, teriakan:"Maaaa!! Gosong!! Baukkk!!", bau asap di seluruh rumah dan semangat pantang menyerah. Hihihi.
--supaya cocok dengan tema pantang menyerah, kami nonton sambil memasak: Bethany Hamilton, "Soul Surfer". -- big thanks to Felicia Ester Puspito who recommends this great, great, great awesome movie. --review ttg film ini akan ditulis di post lain--
Kembali ke proses pembuatan kue kering dengan microwave, berawal dari rusaknya broiler yang biasa kami pakai untuk mengoven.
Jadilah kami mencoba-coba mencari resep di internet utk menggunakan microwave hadiah pindah rumah sbg alat memasak kue kering.
Lalu, setelah berselancar dan menemukan resep di sini:
http://prudentbaby.com/2012/04/entertaining-food/one-minuteone-cookie-how-to-make-a-single-microwave-chocolate-chip-cookie-in-a-minute/
Kami mulai bereksperimen.
Berikut foto2 dari hasil percobaan kami. Dr niat awal dibuat utk sarapan, saking penasaran dengan hasil yang tidak sesuai harapan, kami terus mencoba sampai siang. Setelah selesai belajar dg buku, kami turun lagi ke dapur dan memanggang lagi ^_^
Hasil dari perjalanan "gagal maning gagal maning" kami adalah:
- tiap microwave berbeda, perlu diperhatikan watt dan merk
- high, medium high, medium dan low memberi dampak sangat besar pada adonan yg dipanggang
- butter (mentega) dilelehkan dg suhu medium saja. dg tombol high, mentega akan mendidih dan muncrat ke mana2. butuh waktu utk membersihkan
- lemon dapat dipakai utk membersihkan microwave yang bau gosong ^_^
- adonan yg kebanyakan tepung akan keraaaaasss *awas gigi bisa rompal*
- adonan yg kebanyakan gula lebih cepat gosong
- metode mencoba dg sabar, tiap 1 menit dilihat, jk kurang masuk lagi ke microwave lbh aman drpd sekaligus 4 menit dan gosoooong! :D
Sains dan dapur tidak dapat dipisahkan. Apa yang kami pelajari di dapur, saat kami membaca buku sains, akan muncul pernyataan sbb:
"Ah, ini kan mirip sama yang kita alami kemarin ya?"
"Aku tau kenapa gula lebih cepat gosong. Ini, Mama baca deh,titik didih itu beda-beda."
Jadi, sekarang tiap kali akan bereksperimen, entah di dapur, di kamar mandi atau di ruang belajar, motto kami adalah:
"Make MISTAKES and LEARN from THEM. They are the BEST TEACHERS."
Salah satu tempat belajar favorit kami adalah dapur.
Tempat kami mencoba berbagai eksperimen sains dan berbagai macam resep baru.
Foto di atas adalah menu sarapan anak-anak pagi tadi, ditambah jus buah tanpa gula.
Proses belajar untuk berani gagal juga sering kami peroleh dari dapur. Bisa saat melakukan eksperimen sains atau mencoba resep.Seperti gambar di atas dan bawah berikut, inilah contoh saat-saat kami mengalami kegagalan.
Biasanya kami akan saling memberi semangat, utk terus berani mencoba lagi. Misalnya:
"Gapapa, Ma, kan baru sekali, makanya masih jelek."
"Gapapa, next time coba lagi. Pasti lebih baik."
atau kami hanya tertawa terbahak-bahak melihat hasil akhir jauuuuuh dari harapan.
PROSES belajar lebih penting daripada hasil akhir, menurut kami. Karena seperti itulah hidup.
Banyak yang lebih berharga daripada angka dan uang.
These last few days, were the days I found not-easy to live in. I was still mourning and grieving. I lost a part of me. I lost my 8-week-growing baby inside me.
Some say, "Life must go on, Dear. Keep your head up. So many things to do. So many things await you."
I know. I know. But my minds and my heart seemed cannot function well together.
I just felt so weak. I wanted to do nothing but weeping. I felt so lost and brokenhearted. I need more than just advice. I need hug more. Or comforting words. I need love, support and care rather than advice. Or sometimes just a message saying hello. No lecture, please. I need a bandage to heal the cuts. Not knowledge to fill up my head. My heart ache, feels like cuts deep down inside. I'm not ready for this.
I was ready to welcome our third baby.
My body knew it. It changed. It welcomed our baby.
And I did too. We all did.
I have loved our baby, the first time I read the testpack.
I have loved our baby even I hadn't feel it moved nor kick.
I sang to our baby, talked to our baby when I laid, walked, sat and sew.
I was more than ready to set our baby's room and plan that him/her was going to join our homeschool days.
But, I was never ready to hear that there's no more heartbeat.
What we did:
- Reading the poem
- Listening to native speaker
-Watching video
- Enjoying the intepretation how a poem can turned into a movie and a book
- Realizing the power of imagination
- Discussing how a Dutch Lullaby can inspire many artists to do different things
- Enjoying the beautiful art pictures and song
- Appreciating the poet, artist and the movie maker by put the original links/sites
Target saya dalam minggu ini adalah memberikan asupan nutrisi ke tubuh kami dengan warna warni pelangi. :)
Semakin banyak warna, semakin lengkap vitamin dan mineral yang melengkapi kebutuhan gizi kami :)
Ternyata dengan banyak membaca, saya mengetahui bahwa cara pengolahan sangat mempengaruhi nutrisi di hasil akhir masakan. Kesimpulannya, semakin sedikit pengolahan, semakin banyak gizi yang tetap terjaga sempurna kondisinya. Oleh karena itu, raw food (makanan mentah) sangat direkomendasikan untuk regenerasi sel yang cepat dan terbaik. Target akhir dari semua proses masak memasak di dapur kami, kami akan lebih banyak makan masakan rumah dan masakan mentah dengan cara yang asyik dan menyenangkan.
Beberapa teman bertanya, bagaimana cara membujuk anak untuk mau makan buah dan sayur. Ini merupakan pertanyaan klasik, karena anak-anak kita lahir dengan kondisi begitu banyak jajanan dan makanan instan yang enak, tapi dari gizi sangat jauh dari memadai.